Penonton Happy Ending  

Monday, April 14, 2014

"Sing ngegolke dikeploki, sing kegolan disoraki".

Aku adalah penikmat sepakbola yang selalu happy ending. Kenapa? karena aku  tidak punya fantisme terhadap suatu klub. Menonton pertandingan sekedar untuk menikmati trik2 gocek bola, akurasi umpan, kerasnya tendangan dan tentu saja GOL yang terjadi. Mau siapa yang melakukan, no problemo. Ikut bersorak dan bersorai! 

Dan akhir2 ini, aku sudah tak perlu memaksakan diri untuk rebutan remote TV demi pertandingan Big Match, karena aku sudah bisa menikmati pertandingan via  time line twitter yang riuh setiap kali tim2 besar di sana bertanding. Psywar sebelum bertanding bukan hanya milik pelatih dan pemain, namun sudah merambah ke fans2 yang menurutku kurang gawean. Lini masa menjadi arena para komentator2 kacangan untuk unjuk kebodohan. Dan bagiku, itu sangat menyenangkan! Hingga akhirnya satu kubu mlipir minggir, menghilang karena memaki wasit tak mengubah hasil akhir.

=========

Pun demikian dengan fans2 parpol yang kemarin bertarung dalam PILEG. Bersliweran di TL untuk unjuk kepekok'an. Saling hujat saling maki. Saling umbar data, ntah soheh atau tidak itu urusan belakangan, sing penting ada bahan untuk misuhi liyan. Dan sebagai penonton, aku menikmati! Wong aku tahu mereka-mereka di keseharian seperti apa kok, ibarat bajing macak sufi. Tapi aku kadang terpancing pekok dan ikut menanggapi.

Sampai seorang kawan mengingatkan :





Read more dunk......

AddThis Social Bookmark Button
Links to this post Email this post

Pengamen Belagu  

Tuesday, April 1, 2014

Tinggal di Bekasi kerja di Bogor, membuat aku semakin akrab dengan angkutan umum. Pilihan menggunakan kendaraan pribadi menjadi opsi terakhir dengan alasan efisiensi biaya dan stamina. Jarak 150-an km PP/hari berpotensi nyempalke boyok, tarif tol JORR dan Jagorawi juga ngedap-edapi je.

3 bus dan 2 angkot ku tumpangi setiap hari, membuatku sering menjumpai pengamen dengan berbagai tipe.  Ada tipe seniman jalanan yang emang enak didengar, menyamankan perjalanan. Ada tipe pengharap belas kasihan, biasanya bermodal kecrekan tutup botol atau wadah yakult isi beras. Ada pula yg mengintimidasi dengan penampilan nggali dan ucapan bernada memaksa.

Pernah suatu kali, lembar yg sudah tergenggam ku masukkan lagi ke kantong karena kalimat yg terlontar dari pengamen "uang yang anda berikan tidak akan membuat anda miskin, uang yang anda berikan tidak akan membuat saya kaya. Jangan seperti orang indonesia yang seneng melihat orang susah, susah melihat orang seneng.... "

Lha? Aku wong indonesia ndes! Kowe wong ngendi su?

Read more dunk......

AddThis Social Bookmark Button
Links to this post Email this post

Ondel-Ondel  

Friday, March 21, 2014

Sumber gambar : kebudayaanindonesia .net

Ondel-ondel, apa yang tebersit di benakku? Tinggi, Besar, Warna-warni, Berpasangan, Musik dan Menari! Budaya Betawi ini langsung memikatku ketika pertama lihat di acara TVRI, dulu, ntah tahun berapa aku lupa.

Kemarin malam, dalam perjalanan pulang kerja, kira-kira jam 21:30 , di ujung Jalan Baru Bekasi, aku terhenyak. Ada ondel-ondel, berjalan sendirian tanpa musik mengiringi, menenteng ember kecil, berpindah dari lapak dagangan satu ke lapak lainnya. Ngemis!

Miris...!!!

Sebagai pengagum ondel-ondel aku......... :(

*Gak sempet ambil foto, karena lagi nyetir.





Read more dunk......

AddThis Social Bookmark Button
Links to this post Email this post

Design by Amanda @ Blogger Buster